“Picky Eater” Bisa Jadi Anak Egois

KOMPAS.com – Akibat yang ditimbulkan oleh pola makan picky eater bisa beragam, misalnya gangguan asupan gizi, seperti kekurangan kalori, protein, vitamin, mineral, elektrolit, dan anemia (kurang darah). Kekurangan kalori dan protein akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan berat badan yang turun atau tetap dalam waktu yang cukup lama.

Dari sisi psikologis, picky eater juga bisa mengganggu perkembangan sosial anak. Mereka menjadi anak yang terbiasa menuruti kemauannya sendiri. Mereka tak lagi menghargai beragam jenis makanan, juga tak terbiasa menghargai upaya orang lain, dalam hal ini orangtua dan pengasuh yang telah bersusah payah menyoapkan makanan untuk mereka. Mereka menjadi anak yang egois.

Oleh karena itu, meski biasanya akan hilang sendiri, picky eater harus segera ditangani. Dari sisi kebutuhan nutrisi, anak harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat sejak usia 6 bulan. Pada masa perkenalan ini, orangtua dan pengasuh harus terus mencoba memberikan makanan padat ke anak. Jangan putus asa dan gampang menyerah. Boleh jadi, pada upaya kelima anak baru mau makan sayur atau buah.

Kreatif mencari pengganti dari jenis makanan yang tidak disukai anak, sekaligus menyiasati cara penyajian yang menarik juga bisa membantu. Misalnya menyembunyikan jenis makanan yang tak disukai anak ke dalam makanan favoritnya. Sajikan bakso kesukaan si kecil, tapi jangan lupa selipkan blenderan wortel atau brokoli di dalam bulatan-bulatan bakso. Kreasikan penyajian dengan bentuk-bentuk menarik selera anak. Nasi goreng berbentuk boneka dengan mata dari irisan tomat dijamin bakal membuat anak tertarik.

Dari sisi psikologis, orangtua sebaiknya membina hubungan antara anggota keluarga dengan baik dan penuh kasih sayang. Orangtua juga harus menghindari stres dan jangan terbiasa memuntahkan stres di depan anak. Jangan lupa, ciptakan suasana makan yang nyamamn bagi anak. Ingat, reaksi orangtua juga menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. Sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan.

Jika ini semua Anda lakukan dengan penuh kasih sayang, anak pun akan kembali menjadi anak yang menyenangkan, yang mau menghargai Anda dan tak lagi menolak makanan apa pun yang terhidang di depannya.

(Tabloid Nova

http://m.kompas.com/news/read/data/2010.07.04.10320628

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s