12 Tahun detikcom Jangan Tiru Detikcom!

Achmad Rouzni Noor II : detikInet
detikcom – Jakarta, Indonesia yang demikian besar tentu menyimpan banyak bibit-bibit muda yang berpotensi untuk tumbuh kembang. Jika dibimbing dengan tepat, siapa tahu di masa depan, akan muncul nama-nama yang bisa menyaingi Google atau Facebook.

Mungkin impian itu terkesan terlalu muluk. Namun untuk membangun sesuatu yang besar, rasanya tak ada salahnya untuk memulainya dari mimpi yang besar pula. Setidaknya, impian itu sudah coba diwujudkan dalam bentuk nyata. Soal hasil, itu urusan belakangan.

Saat detikcom mulai beroperasi 12 tahun yang lalu, 9 Juli 1998, rasanya tak banyak orang yang menyangka situs berita kesayangan ini akan mampu bertahan dan menjadi yang terdepan. Kesuksesan detikcom akhirnya membuat banyak perusahaan media lain yang coba meretas jalan mengikuti jejaknya.

“Jangan buat detikcom kedua, percuma! Lebih baik cari ide kreatif lain yang bisa menginspirasi banyak orang,” kata Widi Nugroho, Deputy Executive General Manager Telkom Divisi Multimedia, saat berbicara tentang Start-up Company di Jakarta, Jumat (9/7/2010).

Meski demikian, detikcom yang awalnya digawangi oleh empat orang jebolan media di eranya, menurutnya bisa jadi contoh yang baik untuk ditiru. “Contoh saja mereka dari cara menuangkan ide, inspirasi, dan kreativitasnya, hingga bisa bertahan dan tetap besar seperti saat ini. Semangat itu yang diperlukan oleh start-up company di Indonesia,” kata Widi lagi.

Menurut Widi, Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi flag carrier, berkewajiban untuk membantu start-up company, khususnya berbasis teknologi informasi komunikasi, agar bisa tumbuh kembang dan besar. Untuk itu, Telkom pun tak ragu menggulirkan anggaran Rp 15 miliar setiap tahunnya untuk membina mitranya.

“Jika start-up company ini mampu tumbuh dan menghasilkan konten, imbasnya juga akan dinikmati Telkom sebagai penyedia jasa layanan jaringan. Infrastruktur yang kami sediakan akan jadi lebih berguna lagi,” katanya.

Dalam upanya mencari bibit-bibit muda potensial, Telkom pernah mencoba jemput bola ke kampus-kampus. Namun upaya itu sangat melelahkan. Maka, timbul ide untuk mengumpulkannya lewat jalur kompetisi yang kemudian diberi nama Indigo Fellowship.

“Indigo Fellowship kali ini sudah memasuki tahun kedua. Pada putaran pertama, ada lebih dari 1.000 start-up company yang mendaftar. Sekarang, mungkin jumlahnya sudah lebih dari dua kali lipat,” kata Widi.

Dari 1.000 perusahaan start-up itu, akhirnya cuma beberapa nama saja yang akhirnya terseleksi untuk jadi konten unggulan Telkom. Misalnya, konten pendidikan, olahraga, musik, dan games. Telkom sendiri masih mencari bakat-bakat lainnya.

“Kalau dilihat saat ini, yang mereka hasilkan memang baru ratusan juta rupiah. Tapi mereka-mereka ini kan masih muda. Tunggu 5-6 tahun lagi, bisa jadi mereka yang akan menghiasi berita-berita ekonomi dalam negeri dan mancanegara,” harap Widi.

“Google saja perlu waktu lima sampai 10 tahun baru jadi seperti sekarang ini. Penerbit buku Amazon pun sempat rugi 10 tahun baru kemudian bisa raup keuntungan. Kami rasa, start-up di mana pun tak akan bisa besar. Tapi ke depan, siapa yang tahu?” tandasnya.
http://m.detik.com/read/2010/07/09/175721/1396409/319/jangan-tiru-detikcom?hlight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s